Blog

CERPEN: Di Balik Gunung *)

Sepulang sekolah, aku segera menuju ke kamarku dan menyiapkan koperku. Kumasukkan beberapa baju dan keperluan lainnya. Tak lupa kuisi ranselku dengan alat-alat untuk menjelajah hutan. Sekolahku akan mengadakan acara jelajah hutan di hutan Desa Embun Pagi di kaki sebuah gunung yang tidak aku ketahui namanya. Rencananya kami akan mengadakan acara ini selama 1 minggu sekaligus sebagai perayaan kelulusan kami. Kami akan menyewa beberapa villa untuk tempat tinggal kami. Oh iya, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Oky Yores Mindana. Namun jangan salah sangka ya, aku ini perempuan lho. Biasanya orang-orang akan mengiraku anak laki-laki karena namaku mirip nama anak laki-laki. Aku biasa dipanggil Oyomi. Sekarang aku baru saja lulus dari SMP Pemuda. Sekian dulu ya perkenalannya, aku mau lanjut menyiapkan barang-barang yang harus kubawa karena besok kami akan berangkat.

Aku datang cukup pagi dan dapat dipastikan aku tak akan tertinggal bus. Aku segera memasuki bus dan memilih tempat duduk serta menaruh barang-barangku. Tidak lupa aku menjagakan kursi di sebelah kursiku untuk sahabatku, Missu Yasheda. Sambil menunggu Missu datang, aku membaca novel yang sengaja kubawa sambil mendengarkan musik. Sesekali aku membuka handphone melihat dan membalas chat dari teman-temanku atau sekedar membuka instagram. Di sekolah, aku termasuk anak yang mudah berbaur dan terkenal.

Tiba-tiba ada seseorang yang menutup mataku. Sesuai perkiraanku, itu adalah Missu. Dia langsung duduk di tempat yang sudah ku sediakan untuknya. Kami mengobrol sangat seru, hingga suara guru kami, Mrs. Ellenie terdengar. Rupanya, kami akan segera berangkat. Ternyata teman-teman kami sudah lengkap. Aku dan Missu sama sekali tidak menyadari kedatangan mereka. Tapi ya sudahlah, biarkan saja. Sekarang kami berangkat.

Kami telah sampai. Kami di bagi menjadi 2 kelompok perempuan dan 2 kelompok laki-laki. Kelompok perempuan akan menempati villa pertama dan ketiga. Sedangkan anak laki-laki menempati villa kedua dan villa keempat. Sayangnya, aku tidak sekelompok dengan Missu. Tapi, itu tidak menjadi masalah besar karena saat kami baru saja dibubarkan dan disuruh menuju ke villa masing-masing, sudah banyak anak yang ingin bersamaku.

Karena hari sudah siang dan cuacanya sangat panas, kami akan memulai penjelajahan besok. Hari ini kami dibebaskan berkeliling desa namun tetap saja harus bersama teman sekelompoknya. Aku dan beberapa teman sekelompokku memutuskan berkenalan dengan penduduk desa. Kami menyewa sepeda penduduk untuk berkeliling desa. Sungguh, pemandangannya sangat indah. Kami juga pergi ke sawah dan ke kebun teh. Kami berfoto-foto dan mem-post foto-foto kami di instagram. Namun, saat di kebun teh kakiku tiba-tiba saja terkilir dan itu menyebabkan aku terjatuh. Kepalaku mengeluarkan darah karena terantuk batu. Aku pun segera di bawa kembali ke villa. Semua yang kulihat terlihat buram. Aku pun tak sadarkan diri.

Saat ku terbangun, aku langsung mengambil handphoneku dan melihat jam. Ini masih pukul 2 malam. Aku haus dan ingin sekali minum. Rasanya tidak enak jika aku harus membangunkan orang-orang yang menjagaku. Aku memutuskan mengambil minum sendiri. Aku berjalan menuju dapur. Namun saat aku melewati ruang tamu, aku melihat bayangan seseorang di jendela. Aku sangat ketakutan dan ingin berteriak, namun kutahan teriakanku itu. Sampai pada akhirnya, sinar bulan memantul pada benda yang dibawa oleh bayangan itu. Kuyakin itu adalah pisau. Dia juga menoleh ke arahku, namun aku tidak bisa melihat wajahnya. Akupun berteriak.

Semua orang di villa yang kutempati terbangun karena teriakanku. Mereka kebingungan dan menanyakan apa yang terjadi. Namun, aku hanya bisa menunjuk ke arah kaca dengan gemetar dan berkata terbata-bata. Aku hanya mengulangi 2 kata, yaitu bayangan dan pisau. Mendengar kata pisau, teman-temanku banyak yang panik dan ketakutan. Di tengah kepanikan dan ketakutan kami, adzan shubuh berkumandang. Kami memutuskan untuk melaksanakan shalat shubuh lalu bersiap melakukan penjelajahan serta melupakan semua masalah tadi. Rencananya kami akan berkemah di dalam hutan selama 3 hari 3 malam. Para guru menyuruhku untuk tinggal dan menyusul di hari kedua saja karena mereka melihatku sangat terguncang akan kejadian itu. Namun aku menolak dan memaksa ikut.

Kami sudah sampai di hutan, kami mulai menjelajahi hutan sambil mencari tempat yang tepat untuk berkemah. Selama perjalanan kami berfoto-foto ria. Kami juga mengumpulkan ranting kering agar nanti kami tidak perlu pergi mancari ranting kering untuk api unggun dan memasak lagi. Namun, di tengah perjalanan aku dan beberapa teman sekelompokku, yaitu Amy, Relissa, Geminis, Zue, Wenn, dan Sebrine tertinggal dari rombongan. Kami berusaha mencari dan menyusul rombongan, namun kami justru tersesat. Di hutan ini juga tidak ada sinyal. Kami tidak bisa menghubungi villa ataupun rombongan. Kami memutukan beristirahat di balik semak-semak. Tempat ini cukup tersembunyi dan membuat kami merasa aman dari ancaman hewan buas atau yang lainnya. Saat sedang memakan bekal, kami mendengar suara langkah kaki. Namun aneh, jika itu rombongan kami suaranya pasti akan sangat ramai. Kami memutuskan mengintip. Kami melihat 2 orang pria berbdan besar. Salahsatu dari kedua pria itu membuat badanku terasa beku. Dia adalah pria yang kulihat tadi malam. Walaupun tadi malam aku tidak bisa melihat mukanya, aku mengenali bentuk wajah dan juga postur tubuhnya. Setelah mengumpulkan cukup keberanian, kami memutuskan mengikuti kedua pria itu.

Kami sampai di sebuah tempat. Pria-pria itu mengambil beberapa kotak besar. Sepertinya mereka telah terbiasa. Tempat mereka mengambil kotak dijaga oleh beberapa pria lain. Mereka mulai berjalan pergi. Kami kebingungan. Kami harus mengikuti kedua laki-laki itu atau mengawasi tempat ini. Kami memutuskan mengikuti kedua laki-laki itu karena siapa tahu kami dapat bertemu rombongan kami. Saat kami melewati pinggiran sungai. Ada yang terjatuh dari kotak salah satu pria. Kami berhenti dan mengambil barang yang jatuh itu. Rasanya kami sangattidak percaya dengan apa yang kami pegang. Itu adalah sebuah berlian yang sangat indah. Kami terpukau oleh berlian itu dan hampir melupakan kedua lelaki tadi. Tapi kami segera tersadar. Kami kembali mengikuti mereka dan berlian itu di simpan di dalam tasku.

Kami sampai lagi di tempat lainnya. Tempat itu mirip dengan tempat tadi. Namun di tempat ini kedua pria itu memberikan yang mereka bawa. Seprtinya mereka akan kembali lagi ke tempat pertama. Kami rasa itu adalah pekerjaan mereka. Kami mengikutinya. Namun, saat melewati pinggiran sungai, mereka mengetahui keberadaan kami. Kami langsung lari menyeberangi sungai tidak peduli sepatu dan pakaian kami basah. Tas Geminis bahkan hanyut. Namun, untungnya, Geminis tidak suka membawa banyak barang, jadi tas itu hanya berisi 2 pasang baju dan beberapa hal yang tidak penting lainnya. Yang terpenting bagi kami adalah tasku karena kami baru menyadari bahwa ini adalah penyelundupan dan penambangan berlian secara illegal. Berlian di tasku dapat menjadi buktinya. Kami beruntung bertemu dengan 2 orang teman kami yang akan ke sungai untuk mengambil air saat kami berlari memasuki hutan. Mereka membantu kami kabur dan mengantar kami ke perkemahan. Kedua lelaki itu sepertinya terlalu bodoh dan masuk ke dalam perangkap sederhana kami. Mereka terus mengikuti kami. Kami pun memancing mereka agar mengikuti kami ke perkemahan. Dan mereka memang mengikuti kami hingga perkemahan. Di perkemahan kami menangkap mereka dengan bantuan teman-teman lainnya.

Saat membuat api unggun, kami menaruh mereka di tengah api unggun dengan badan terikat. Kami duduk mengelilingi api unggun dan sesekali menjahili kedua lelaki itu. Sepertinya kedua lelaki itu sudah tidak tahan lagi. Mereka pun berjanji akan memberitahu semua rahasia yang mereka tahu asalkan kami membebaskan mereka. Kami pun setuju, namun mereka tidak boleh memberitahu rekan dan pimpinan mereka. Mereka pun bercerita tentang pekerjaan mereka mengirimkan berlian dari tambang ke tempat penyimpanan. Ternyata mereka terpaksa melakukan pekerjaan itu. Mereka menceritakan proses yang terjadi hingga transaksi. Mereka juga memberitahukan nama bos dan para pembeli. Kami pun mempercepat waktu kepulangan kami, yang seharusnya 3 hari menjadi 2 hari. Di hari kedua kami fokus mencari cara untuk menangkap pelaku penyelundupan ini. Kami memikirkan cara agar pimpinannya datang ke lokasi dan ikut tertangkap. Mereka juga memberitahu rekan-rekan mereka yang sebenarnya terpaksa bekerja di situ untuk kabur keesokan harinya sebelum pukul 12 siang. Rencana kami pun telah matang. Kami hanya perlu melaksanakannya besok.

Keesokan harinya kami pulang ke desa. Kami segera menghubungi pihak kepolisian. Kami menjelaskan seluruh rencana kami dari awal hingga akhir. Setelah pihak polisi setuju, kami mulai bergerak masuk ke dalam hutan. Penangkapan berhasil. Kebetulan sang pemimpin sedang ada di tempat penyimpanan untuk memberitahukan jika mereka mendapatkan pesanan besar. Pihak kepolisian berterima kasih pada kami. Ternyata sang pemimpin termasuk buronan kelas 1 karena kasus pembunuhan, perampokan, penyelundupan, terorisme, dan kasus-kasus lainnya. Pihak polisi menawarkan pada kami untuk mengambil semua berlian yang ada di tempat penyimpanan. Namun kami menolak dan menyuruh para polisi menjadikan berlian-berlian itu sebagai aset negara.

Kami semua merasa sangat lelah setelah menyelesaikan kasusu ini. Di sisi lain kami juga merasa puas dan bangga atas apa yang kami lakukan. Aku, Amy, Relissa, Geminis, Zue, Wenn, dan Sebrine serta Missu duduk bersama memandang kejauhan sambil menikmati pemandangan alam dari salah satu sudut hutan. Pemandangan gunung yang indah, terlihat seakan gunung-gunung yang kami lihat telah bersatu dengan langit biru. Ternyata tersimpan banyak keajaiban di balik sebuah gunung. Kekayaan alam yang melimpah, dan juga sebuah tambang berlian yang jika jatuh ke tangan yang salah akan berdampak buruk dan tak bermanfaat. Ada juga udara yang sejuk menenangkan pikiran. Langit biru. Gunung indah terhampar. Luasnya kebun dan sawah nan hijau. Suara-suara burung bersiul dan kepakan sayapnya. Suara percik air di sungai hiasi pemandangan yang kian sempurna ini. Ini lah keajaiban gunung yang sebenarnya. Keajaiban yang tersembunyi di balik sebuah gunung. Hanya ini, bukan sebuah tambang berlian ataupun yang lainnya.

*) Ananda Ruri Ridha Rajwari di Kelas VIII E

No Comments Yet


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CLOSE
CLOSE