Blog

SAMPAH & POLUSI – GSF 2K18 SMPIS

MASALAH ISU PETA UMUM SEKOLAH

Kondisi

Sampah organik sisa makan siang di dapur masih belum terolah secara maksimal, dan dibuang begitu saja

Penyebab

Belum ada tindak lanjut secara kontinyu tentang pengolahan sampah organik sisa makanan

Solusi

Merancang alat bantu pencacah sampah organik sisa makan siang dan mengolahnya menjadi kompos dan biomol.

Menyusun jadwal kegiatan pengolahan.

Membuat media edukasi pembuatan kompos dan biomol dari sampah organik.

Kondisi

Sampah anorgnik berupa botol, plastik, dan kertas sudah terpilah

 

Ide Pengembangan

Mengumpulkan sampah anorganik botol, plastik, dan kertas ke bank sampah sekolah. Membuat edukasi tentang bank sampah sekolah

Read more

PETA UMUM SEKOLAH – GSF 2K18 SMPIS

MASALAH ISU PETA UMUM SEKOLAH

  • Kondisi

Belum banyaknya pengembangan SDM sekolah melalui delegasi pada pelatihan, workshop, dan seminar tentang lingkungan hijau

  • Penyebab

Aktivitas yang padat di full day school dan belum bekerja sama secara penuh dengan instansi yang bergerak dalam bidang lingkungan

  • Solusi

Lebih intensif dalam mengirimkan delegasi pada pelatihan, workshop dan seminar tentang lingkungan hijau

POTENSI ISU PETA UMUM SEKOLAH

  • Kondisi

Program unggulan sekolah sehat menyenangkan rapi bersih dan berkarakter (SEMERBAK) dengan menggunakan format monitoring kebersihan kelas.

Banyaknya media untuk pembelajaran lingkungan hidup seperti green house, center point tabulampot, biopori, pembuatan sabun dari kelapa sawit, dan lain-lain.

  • Ide Pengembangan

Fomat monitoring SEMERBAK di setiap kelas lebih dioptimalkan oleh siswa yang piket kelas

Membuat papan edukasi pembelajaran lingkungan hidup di setiap media pembelajaran.

 

MENUJU GREEN SCHOOL FESTIVAL 2K18

Read more

MENUJU GREEN SCHOOL FESTIVAL 2K18

Pada tanggal 28 Agustus 2018, hari Selasa SMP Islam Sabilillah Malang melakukan pembuatan peta isu untuk Green School Festival tahun 2018. Setiap isu mendapat tugas masing-masing, terdapat 9 isu yaitu, isu energy, sampah, literasi teknologi dan informasi, air dan limbah cair, resiko, tanaman, UKS, kantin sehat, peta umum. Pembuatan peta mapping setiap isu dikerjakan oleh kelompok masing-masing, pembuatan peta mapping hanya membutuhkan waktu sehari saja. Setelah pembuatan peta mapping, setiap kelompok akan mempresentasikan hasil dari peta mapping yang sudah kami buat.

Hari Rabu tanggal 29 Agustus 2018, kami akan melakukan aksi lingkungan  untuk setiap isu, contohnya isu literasi teknologi dan informasi. Isu literasi teknologi dan informasi akan melakukan aksi yang berhubungan dengan majalah dinding (mading), majalah, buku bacaan, juga media sosial. Isu literasi teknologi dan informasi akan menghias mading sekolah yang kosong dengan bacaan tentang lingkungan, yang unik juga berbeda dari mading lainnya. Tidak hanya itu, tim isu literasi teknologi dan informasi akan mengupload video tentang lingkungan sekolah yang di upload di Instagram, youtube SMP Islam Sabilillah Malang.

Tujuan dari adanya mading dengan kreasi yang unik juga mengupload video lewat media sosial adalah, agar siswa dan guru makin mengerti seberapa pentingnya menjaga lingkungan, melalui media yang sering dipakai. Mengapa melalui media sosial? Karena, media sosial adalah media yang dapat dilihat oleh siapa saja dan sangat bermanfaat, dan murid disini tidak tertarik untuk membaca tetapi sangat senang dengan media sosial. Jadi tim isu literasi teknologi dan informasi mencari ide yang sesuai dengan kepribadian siswa disini.

Kami juga akan melakukan presentasi pada semua siswa di sekolah ini pada tanggal 30 Agustus 2018, hari Kamis. Setiap tim akan mempresentasikan peta mapping maupun aksi lingkungannya. Presentasi ini akan menyadarkan siswa-siswa dan para guru agar menjaga lingkungan dengan begitu sekolah kami SMP Islam Sabilillah Malang akan menjadi indah dan bersih. Kami ingin jika sekolah kami akan selalu bersih dan indah, tapi bukan jika hanya ada ajang kebersihan. Tapi kami ingin rasa itu muncul dan selalu ada di dalam hati siswa sabilillah.

Oleh Farsya 7B

Read more

Perindah Tempat Sampah untuk Memikat Perhatian

Malang- Siswa SMP Islam Sabilillah Malang berbondong-bondong dalam melakukan pengecatan pada seluruh tempat sampah yang dimilki oleh sekolah. Beberapa siswa yang tergabung pada pogja sampah bekerja sama dengan pogja literasi (28/10/17). Tujuan ini dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat dalam melakukan pembuangan sampah pada tempatnya. Selain itu, dalam kegiatan ini siswa melakukan pengecatan tempat sampah dengan tujuan memudahkan dalam proses pemisahan sampah organik (warna hijau) dan sampah an organik (warna kuning).

Dengan kegiatan ini, beberapa siswa kelas 7 dan 8 wajib yang tergabung pada pogja sampah dan literasi melakukan pengecatan serta membuat stiker bertuliskan Organik dan An Organik. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menumbuhkan cinta linkungan dengan membuang sampah pada tempatnya dan tak lupa juga melakukan pemisahan terhadap sampah organik dan anorganik. Dengan harapan agar pengolahan lebih mudah. Dalam hal ini, selain sebagai ajang untuk mencintai lingkungan, juga sekaligus untuk membiasakan wagra sekolah ataupun tamu yang datang untuk membuang sampah pada tempatnya. “Sebagian teman-teman membuang sampah tidak dengan pemilahan sehingga sampah tercampur-campur,” ujar Dhaffin, salah satu anggota pgja sampah.

Pada proses ini siswa sangat antusias dengan didampingi guru penannggung jawab pogja yang bersangkutan, pengecatan sapat terselesaiakan dalam 2 hari lengkap dengan penempelah stiker identitas Organik dan An Organik. Mulai dari melakukan pembersihan cat dasar, kemudian pengeringan, sampai memberikan cat dasar yang baru, dan diakhiri dengan cat warna kuning dan hijau.

Dilingkungan sekolah SMP Islam Sabilillah Malang terdapat kurang lebih 30 tempat sampah. Diantaranya terletak pada masing-masing depan kelas lantai 1, lantai 2, dan lantai 3. Depan masjid, depan LAB IPA, di ruang tata usaha, halaman belakang dan halaman depan, depan koperasi, dll.

Read more

Persiapkan Lingkungan Sehat, Siswa Tanam Pohon Buah dalam Pot

Malang- Aksi Siswa Smp Islam Sabilillah Malang melakukan penananaman buah dalam pot (tabulampot) secara serentak (27/10/17). Kegiatan tersebut dilakukan sebagai salah satu pelaksanaan program sekolah Gerakan Sekolah Bersih (GESBY) yang menjadi rutinitas. Namun, pada kesempatan kali ini sekolah memfokuskan pada tabulampot. Pada kegiatan ini sebagai salah satu bentuk usaha sekolah dalam menciptakan lingkungan sehat. Selain itu juga sebagai ajang  untuk memperingati Peringatan Sumpah Pemuda yang mana sekolah ingin menerapkan kegiatan positif yang tidak melulu fokus pada budaya yang dimiliki Indonesia. Meskipun begitu tidak mengurangi jiwa patriotisme pada Siswa Smp islam Sabilillah Malang .

Dengan tema One Student One Tabulampot pada kegiatan ini, setiap siswa kelas 7 dan 8 wajib menanam satu pohon buah dengan berbagai jenis yang sebelumnya sudah diundi. Kegiatan  penanaman  ini selain sebagai ajang untuk mencintai lingkungan, juga sekaligus untuk menumbuhkan karakter siswa yang mana pada dasarnya sekolah Sabilillah memilki 9 Cinta, salah satunya cinta lingkungan. Dari aksi tabulampot, siswa diharapkan memiliki rasa tanggung jawab dan dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat. Pada dasarnya lingkungan yang memiliki jutaan tanaman akan mampu membentuk lingkungan yang sehat. Karena, pada proses kali ini yang dilakukan mulai dari memilih bibit tanaman, melakukan penanaman, memberikan pupuk, menyiram dan merawatnya. Dalam hal ini setiap kelas telah dibentuk petugas piket sesuai dengan kelompok masing-masing. sehingga dalam proses pemeliharaan tanaman tidak sampai luput. “Ini bukanlah hal yang mudah, butuh ketelatenan dan keterampilan,” ungkap Idi Rathomy Baisa, M.Pd, Kepala SMP Islam Sabilillah Malang.

Pada serangkaian kegiatan pembukaan dan peresmian penanaman buah dalam pot ini, secara simbolis dilakukan penanaman jambu diamond  Idi Rathomy selaku kepala SMP Islam Sabilillah Malang, Joni Setyawan selaku wakil manager iklan Radar malang, dan drg. Ismawarni selaku ketua Majelis Orang Tua Siswa. Keludian disusul secara serentak siswa kelas 7 dan 8 melakukan proses penanaman, mulai dari memasukkan sabut kelapa terlebih dahulu, memberikan tanah yang sudah tercampur dengan sekam dan pupuk kandang yang sebelumnya sudah melalui proses pencampuran, diakhiri dengan menaruh bibit ke dalam pot. Bukan hanya itu, dari rangkaian acara hari ini, para wali murid juga melakukan penanaman tanaman toga. Kegiatan ini, sekaligus menunjang event Green School Festival (GSF).

Ada sekitar 307 bibit tanaman buah yang siap ditanam. Diantaranya, rambutan, kelengkeng kristal, nangka, durian, jambu kristal merah, sawo putih, mangga kelapa, jambu air king rose, dan mangga apel. Selain itu, juga ada sekitar 10 tanaman langka, seperti matoa, gandaria selima putih, gowok, mundu, juwet, rukem, dan lain-lain.

Read more

Peta Kesimpulan Eco Mapping Smp Islam Sabilillah Malang Tahun 2017

A.  PETA UMUM SEKOLAH

1. Masalah

a) Kondisi : banyak makanan di kantin sekolah yang mengandung zat aditif buatan (pengawet, MSG, dan lain-lain); b) Penyebab: kurangnya pengawasan ahli gizi terhadap makanan di kantin sekolah; c) Solusi: Membuat usulan kebijakan kepada pimpinan untuk mengurangi makanan yang mengandung zat aditif buatan (berpengawet, berpewarna, dll).

2. Potensi

a) Kondisi: sekolah menengah pertama yang menjadi rujukan dalam pembentukan karakter keislaman yang mempunyai program unggulan gerakan sekolah bersih yang merupakan perwujudan dari siswa Sabilillah penuh cinta, khususnya cinta alam sekitar; b) Ide: melaksanakan gerakan sekolah sehat, menyenangkan, rapi, bersih, dan berkarakter (SEMERBAK) dengan sistem monitoring yang baik.

B.  ISU SAMPAH & POLUSI

1.  Masalah

a) Kondisi: sampah botol plastik masih banyak dan menumpuk dan tidak terkelola dengan baik; b) Penyebab: siswa masih banyak mengonsumsi minuman kemasan botol plastik; c) Solusi: mengolah/mendaur ulang sampah botol dengan baik menjadi kerajinan yang bernilai ekonomis.

2.  Potensi

a) Kondisi: sampah organik sisa makan siang di ruang makan belum dimanfaatkan secara maksimal; b) Ide: sampah organik dari sisa makan siang didaur ulang menjadi pupuk organik cair, pestisida, dan gas metan.

C.  ISU ENERGI

1. Masalah

a) Kondisi: Lampu, LCD, kipas angin lupa dimatikan; b) Penyebab: stiker himbauan hemat energi hilang; c) Solusi: memperbarui stiker himbauan.

2.  Potensi

a) Kondisi: Lokasi sekolah yang strategis dengan pencahayaan matahari yang maksimal; b) Ide: memberi panel surya di atap.

 

D.  ISU AIR & LIMBAH CAIR

1.  Masalah

a) Kondisi: aliran air sering mati sehingga ketika wudhu sering kehabisan air; b) Penyebab: petugas yang menyalakan air dari tandon sering lupa dan terlambat untuk menyalakan mesin; c) Solusi: membuat jadwal piket dan monitoring petugas yang menyalakan mesin untuk mengalirkan air.

2.  Potensi

a) Kondisi: air sisa yang berasal dari siswa dan guru yang berwudhu masih belum dimanfaatkan dengan baik; b) Ide: air sisa wudhu tersebut ditampung di tempat khusus lalu diolah dan disalurkan untuk digunakan menyiram tanaman.

E.   ISU TANAMAN HIJAU

1. Masalah

a) Kondisi: banyak tanaman yang kurang terawat; b) Penyebab: warga sekolah yang kurang peduli terhadap tanaman di sekolah; c) Solusi: mengadakan piket untuk merawat tanaman, mengadakan lomba taman kelas yang berhadiah,

2.  Potensi

a) Kondisi: banyak tanaman tetapi kurang tersebar dengan baik; b) Ide: melaksanakan program tanaman buah dalam pot, program Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM), menyebar tanaman dengan baik dan menyingkirkan tanaman yang mati, memberikan label tanaman dalam bentuk Barcode.

F.  ISU RESIKO

1.  Masalah

a) Kondisi: kamar mandi bau dan kotor; b) Penyebab: kurangnya kesadaran untuk menggunakan sandal kamar mandi, kurangnya kesadaran untuk membersihkan kamar mandi setelah digunakan; c) Solusi: memberi himbauan untuk selalu menggunakan sandal kamar mandi, memberi pengharum di setiap kamar mandi, memasang kipas kamar mandi.

2.  Masalah

a) Kondisi: banyaknya kursi siswa yang rusak pada setiap kelas; b) Penyebab: banyak siswa yang memakai kursi dengan tidak hati-hati dan tidak sesuai fungsinya (dibuat mainan)
Solusi: memberi identitas/nama pada tiap kursi agar ketika kursi tersebut rusak yang bertanggung jawab adalah siswa tersebut.

G.  ISU KANTIN SEHAT

1. Masalah

a) Kondisi: masih banyak siswa yang membungkus makanan dengan plastik; b) Penyebab: kurangnya kesadaran siswa; b) Solusi: membawa kotak makan sendiri.

2.  Potensi  

a) Kondisi: makanan yang disediakan sudah mencakup 4 sehat 5 sempurna, sehat dan bergizi; b) Ide: sosialisasi atau menginformasikan nilai gizi makanan yang dikonsumsi pada saat makan siang.

H.  ISU INOVASI TEKNOLOGI

1.  Masalah

a) Kondisi: banyaknya tanaman dalam pot yang terkadang kurang teratur penyiramannya; b) Penyebab: petugas piket taman kurang rutin dalam melakukan perawatan pada saat liburan; c) Ide: membuat alat penyiran tanaman otomatis agar penyiraman tanaman dapat teratur.

 

 

2. Potensi

a) Kondisi: Pembelajaran dengan model Project based Learning (PjBL) pada kelas 7 dan 8; b) Ide: membuat peralatan atau produk pengolahan atau daur ulang sampah, teknologi yang berhubungan dengan masalah lingkungan sekolah.

I.  ISU LITERASI

1. Masalah

a) Kondisi: tulisan keterangan sampah organik dan anorganik di tempat sampah sudah pudar dan mengelupas; b) Penyebab: sering terkena sinar matahari dan hujan terlalu lama
Solusi: membuat stiker dengan tulisan organik dan anorganik dengan kualitas yang lebih bagus.

2. Potensi

a) Kondisi: terdapat majalah dinding (mading) dengan letak strategis yang terletak pada hampir setiap ruang kelas dan tempat informasi sehingga dapat memudahkan pembaca untuk memperoleh informasi dan menambah pegetahuan; b) Ide: mengemas semenarik mungkin infromasi yang ditampilkan di mading agar menarik minat pembaca, menginformasikan setiap berita yang berhubungan dengan lingkungan dan kegiatan kader lingkungan, menyusun jadwal pergantian isi mading sesuai dengan tema pada setiap bulannya.

Read more

Workshop Green School Festival 2017

 

1.  Ananda Aflahchintya hadir pada kegiatan Workshop Lomba Kreativitas Sekolah dan Lingkungan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Malang dan Radar Malang di hotel Aria Gajayana pada hari senin, 16 Oktober 2017

 

2. Ananda Aflah bekerjasama dengan tim yang berasal dari sekolah lain untuk berkeliling mengamati keadaan hotel Aria guna menemukan masalah atau potensi yang ada

 

 

3. Ananda Aflah bekerjasama dengan tim yang berasal dari sekolah lain menuliskan hasil temuan masalah atau potensi pada peta hotel Aria yang telah disediakan

 

 

 

 

 

 

4. Ananda Aflah bekerjasama dengan tim mendiskusikan solusi dan ide untuk setiap masalah atau potensi yang ditemukan serta memberikan skoring pada setiap potensi dan masalah

 

 

 

 

 

 

 

5. Ananda Aflah dengan tim membagi tugas sebagai penjaga stand dan pengunjung untuk melakukan sharing gagasan dengan metode shopping round. Ananda Aflah bertugas sebagai penjaga stand dari isu peta umum dan sedang dikunjungi oleh para guru untuk mempresentasikan hasil mapping-nya dan mendapatkan masukan atau pertanyaan dari para guru.

 

Read more

GSF Membentuk Karakter Cinta Lingkungan

Perhelatan Green School Festival (GSF)  yang telah digagas oleh radar Malang patut mendapatkan apresiasi yang sangat positif dalam mengembangkan pendidikan karakter di sekolah. Mengapa seperti itu? Jelaslah bahwa penanaman karakter siswa merupakan point penting dalam pendidikan kita, terutama mengajak siswa mencintai alam sekitar atau lingkungannya. Dengan begitu, secara tidak langsung, siswa sudah diajak secara bersama-sama untuk selalu menjaga, melestarikan, dan menghargai alam sekitarnya. Kebiasaan cinta terhadap lingkungan yang ditanamkan sejak dini diharapkan dapat menjadi gaya hidup anak di usia dewasa nanti.

Dalam perhelatan ini, anak secara langsung diharapkan memiliki self  inisiatif  guna menemukan permasalahan di sekolahnya. yang nantinya diharapkan menemukan dan mendiskusikan pemecahan dari permasalahan tersebut. Siswa diajak untuk selalu “ngeh” atau “peka” terhadap isu tentang lingkungan di sekitarnya. Kepekaan inilah nantinya yang menjadikan siswa untuk selalu care terhadap lingkungan dan berdampak positif  bagi lingkungan, tempat tinggalnya. Dalam kegiatan GSF ini, siswa secara langsung terlibat dan berperan aktif dalam menemukan isu dan permasalahan yang ada di lingkungan sekolahnya. Ini artinya sangat penting bagi kehidupannya kelak, sehingga dia memiliki sikap percaya diri menyelesaikan permasalahan hidupnya. Di samping itu sikap kerja sama dengan kelompok saat melakukan pemetaan isu dan mempresentasikan hasil pemetaannya juga mampu membangun sikap sosial anak dengan baik. Kemampuan kolaborasi ini merupakan skill yang harus dipupuk sejak dini untuk kehidupannya kelak.

Kita ketahui bersama bahwa isu lingkungan saat ini sangat mendesak untuk dilakukan tindakan yang nyata di masa ini. Banyak terjadi kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh perilaku manusia yang kurang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Bahkan  setiap tahun, ada saja kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia bahkan luar negeri pun. Misalnya saja, banjir, tanah longsor, dan  banyaknya pembakaran hutan di Indonesia, ini adalah akibat dari oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab. Dengan gambaran tersebut,  GSF adalah sesuatu kegiatan yang mampu memberikan gambaran bagi anak untuk selalu memiliki karakter cinta terhadap lingkungan.

Melihat antusiasme siswa, sekolah, guru, dan orang tua yang terlibat dalam kegiatan GSF ini, akan secara langsung memiliki konstribusi dalam membentuk jejaring yang kuat dalam pembentukan karakter cinta lingkungan. Diakui atau tidak untuk penanaman karakter cinta lingkungan ini memang perlu mendapat perhatian khusus dari semua komponen, baik siswa, guru, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Gerakan yang di mulai dari budaya sekolah ini sangatlah efektif dilakukan mengingat sebagian waktu anak  dihabiskan di sekolah. Bila sekolah menjadi cermin lingkungan yang sehat dan ramah terhadap lingkungan, secara otomatis anak akan ‘meniru’ dan mengaplikasikannya dalam kehidupan di rumah, dan di lingkungan sekitarnya.

Dengan kegiatan GSF ini, sekolah terlihat memiliki inisiatif  untuk melakukan perbaikan terhadap lingkungan sekolahnya. Beberapa dari mereka berupaya membedakan sampah antara  sampah plastik, daun, dan kertas, mengolah sampah yang asalnya barang yang tidak berguna menjadi barang yang berguna dan kemudian dipasarkan, menciptakan iklim untuk hemat energi, mengurangi resiko, berupaya menciptakan ketertiban, keindahan, dan kerindangan di sekolah, serta menciptakan dan membudidayakan  potensi yang dimiliki sekolah sehingga menjadikan sekolah unggul terhadap lingkungan. Menjadikan sekolah sebagai lingkungan yang sehat, ramah terhadap lingkungan, menjaga dan merawat lingkungan sekitar dengan baik. hanya tampilan fisik sekolah yang hijau/rindang, tetapi wujud sekolah yang memiliki program dan aktivitas pendidikan mengarah kepada kesadaran dan kearifan terhadap lingkungan hidup. Program pendidikan karakter cinta lingkungan ini benar-benar dikemas secara partisipatif penuh, percaya diri, berkolaborasi, berpikiran kritis, komunikatif, mengaktifkan dan menyeimbangkan antara aksi dan reaksi sehingga setiap anak memiliki sikap inisiatif dan peduli terhadap lingkungannya.  Kegiatan GSF ini ternyata mampu dijadikan indikator sekolah peduli dan berbudaya terhadap lingkungan. Jadi sudahkah kita berbudaya terhadap lingkungan?kusmiati

Read more