Blog

Topeng Identitas Diriku

Oleh: Olivia Zahra K.(7C)

Pada hari Minggu yang cerah, Bagas dan Dimas pergi ke sebuah pekan budaya yang terletak tidak jauh dari Museum Brawijaya Malang. Mereka berdua merupakan pelajar berumur 12 tahun dari sekolah yang sama. Bagas dan Dimas diberi tugas dari sekolah mereka untuk membuat karya tulis bertema budaya Jawa Timur, akhirnya setelah lama berpikir mereka meutuskan untuk memilih Topeng Malangan sebagai tema karya tukis mereka karena selain
memiliki bentuk yang unik Topeng Malangan memiliki 76 karakter yang berbeda yang terbagi menjadi 4 bagian besar.
Mereka pun mulai berjalan mengitari pekan budaya yang dipenuhi oleh wisatawan bahkan pelajar dari bermacam-macam sekolah. Berbagai macam budaya Malang ditunjukkan mulai dari sejarah kota Malang, para pahlawan, baju adat, makanan khas, Topeng Malangan dan banyak lagi.

 

selanjutnya klik disini

Read more

SEUNTAI HARAPAN DAN SEHELAI PENYELESAIAN

Oleh Aliefia Taftazani Achsan

Pagi itu, Adit dan kedua kawannya melakukan kunjungan ke sebuah Museum untuk melakukan wawancara dengan salah satu petugas Museum, dan jika diperkenakan mereka ingin bertanya langsung pada Kurator Museum tersebut. Pada pagi yang cerah itu, mereka berkumpul di rumah Fahri.Fahri adalah salah satu dari kawan Adit. Karena mereka akan berangkat ke Museum dengan diantarkan oleh Ayah Fahri. Sesampainya di Museum, Adit, Fahri, dan Farhan
tidak dapat menahan diri mereka yang memang sangat tertarik dengan hal yang berbau sejarah. Mereka pun melihat seisi Museum yang sangatlegendaris tersebut, dan saat mereka berkeliling
tiba-tiba dihadapan mereka tampak seorang berdiri tegap dan orang tersebut adalah Kurator Museum legendaris itu.

 

selanjutnya klik link ini

Read more

Petualangan Selendang Kuning

Oleh Alya Nurul Izza

Namaku Nina. Umurku baru 12 tahun. Aku merupakan salah satu anak didikan Sanggar Tari Tradisional Mentari. Disini aku belajar banyak tari tradisional, baik tarian dari Sumatra hingga tarian dari Papua. Aku mempunyai dua sahabat di sanggar tari ini mereka adalah Melly dan Kelvin. Melly, dia seumuran denganku. Melly sangat pandai menari, dia selalu mengajari temannya tentang berbagai tarian. Tapi Melly sangat penakut , dia selalu takut dengan hal gaib, entah kenapa dia sangat takut dengan hal gaib.
Kelvin, dia juga seumuran denganku. Kelvin sangat periang, dia tidak suka melihat temannya bersedih, jadi dia selalu menghibur temannya yang bersedih agar bisa bahagia kembali. Tetapi dia selalu menjahiliku, saat waktu pulang dia sering menyembunyikan sepatuku di suatu tempat. Walupun Kelvin
begitu, dia tetap sahabatku yang terbaik.

 

selanjutnya klik link ini

Read more

Menur Solusi Sulitnya Menulis Cerita Pendek

Oleh Kusmiati, S.Pd

Pernyataan itu mengingatkan saya bahwa pentingnya manusia untuk bekerja
sama, berkelompok dan berkolaborasi, satu dengan yang lainnya. Dalam kehidupan kita
sebenarnya tidak terlepas dari bantuan orang lain. Bayangkan saja, sejak kita dalam
kandungan sudah membutuhkan ibu untuk mensuplai makanan melalui plasenta. Kita
lahir pun membutuhkan bantuan bidan/dokter dalam persalinan. Saat bayi kita juga
membutuhkan bantuan ibu kita untuk memandikan, mengganti popok, membuatkan
susu dan menyuapi makanan. Ketika kita beranjak menjadi remaja dan dewasa pun kita
membutuhkan teman, guru, kakak, adik, saudara, tetangga bahkan orang yang sama
sekali tidak kita kenal sebelumnya. Sampai pada akhirnya kita juga membutuhkan
orang lain untuk mensucikan dan menguburkan saat kematian itu datang. Berbagi dan
terus memberikan konstribusi bagi yang lain itu sangat penting artinya dalam
memaknai hidup ini. Lantas apa hubungannya bekerja sama dengan orang lain dan
mengajarkan keterampilan menulis cerpen?

 

 

selanjutnya klik link ini

 

Read more

Majelis DZIKIR BINA QOLBU SEKOLAH SABILILLAH

Aqidah bukan hanya sebagai fondasi keagamaan bagi seseorang tetapi aqidah juga memiliki fungsi dalam berkeluarga. Peran keluarga dalam menanamkan etika Islam kepada anak sangatlah penting agar anak kita tumbuh dengan karakter yang baik serta mampu menaati aturan-aturan Allah SWT. Tentu, membangun prinsip aqidah dalam keluarga bukanlah sesuatu yang mudah, lalu langkah apa sajakah yang harus dilakukan agar kita senantiasa istiqomah membangun keluarga yang senantiasa menanamkan dan menjaga aqidah?

Majelis Dzikir Bina Qalbu akan hadir pada Sabtu, 13 Januari 2018 mengupas kajian tentang hal tersebut. Di kemas dalam dakwah dan parenting Islami, kegiatan ini mengupas berbagai kajian islami untuk membangun integrasi orang tua, siswa, dan sekolah dalam membangun keluarga sesuai tuntunan Islam.

Read more

BELAJAR MEMBACA ALAM

Radar Malang – Ada yang berbeda dengan suasana belajar mengajar di SMP Islam Sabilillah. Jika pada hari biasanya kegiatan dilakukan di dalam kelas, kemarin (7/9) kegiatan dilakukan di luar kelas. Kegiatan itu dilakukan untuk memperingati hari belajar di luar kelas yang jatuh kemarin. Kegiatan belajar di luar kelas itu bertajuk ”Membaca Alam, Tebarkan Kedamaian”. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan literasi para siswa.

Read more

SMP Islam Sabilillah Waqaf ALMUS, apa itu???

Rangkaian kegiatan Pesantren Ramadhan yang telah digelar oleh SMP Islam Sabilillah adalah pelaksanaan waqaf ALMUS ( Al-Qur’an, mukenah, sarung) berlangsung pada hari Rabu, (14/6). Di samping penyaluran waqaf Almus tersebut, beberapa siswa juga tampak gembira dan antusias melakukan kegiatan tadarus Al-Qur’an dan bersih-bersih masjid di daerah pinggiran kota Malang.
Beberapa masjid yang dituju untuk kegiatan tersebut antara lain beberapa masjid Baiturrahman yang berada di Lesanpura yang diterima oleh takmir masjid bapak M. Khotib, mushala di RSIA Refa Husada yang telah diterima drg.Muhammad Ali Syafaat dan di masjid Al-Mubarokah diterima oleh takmir masjid bapak Bambang Budiono.
“Salut kepada adik-adik pelajar SMP Islam Sabilillah ini yang telah melakukan kegiatan positif di bulan ramadhan ini melakukan waqaf Almus dan kegiatan bakti sosial berupa bersih-bersih masjid dan tadarus di masjid ini.” ujar Bapak M.Khotib selaku takmir masjid Baiturrahman.
Hal serupa juga dikemukakan oleh drg. Muhammad Ali Syafaat selaku penanggung jawab harian di RSIA Refa Husada yang mengatakan bahwa Al-Qur’an dan perlengkapan shalat ini sangat berguna bagi para pengunjung maupun pendamping pasien di rumah sakit ini,” ujarnya.
Menurut Bapak Bambang Budiono menyatakan bahwa “Kami sangat senang atas waqaf Al-Qur’an dan perlengkapan shalat yang berupa mukenah dan sarung ini. Ini sangat bermanfaat bagi jamaah yang mampir ke masjid ini tetapi lupa membawa perlengkapan shalatnya,”ujar takmir masjid Al-Mubarokah yang berada di Bumiayu Kedungkandang-Malang. Dan pada hari ini (15/6) penyaluran dilaksanakan di musholah Radar Malang, penyerahan waqaf ALMUS dan almari sebagai tempatnya. Alhamdulillah hal ini disambut dengan tangan terbuka oleh perwakilan dari Radar Malang.
Di samping kegiatan waqaf ALMUS dan kegiatan baksos, ad juga Ramadhan project merupakan aplikasi dari proses pembelajara based learning (PjBl), Ta’jil Gratis, Buber & Sholat Tarawih berjamaah dis ekolah, Zakat, Amal dan Shodaqoh dengan tujuan menjadi sarana belajar Ananda yang nantinya akan disalurkan panti asuhan dan warga sekitar sekolah yang berhak, dan dipenutupan pesantren ramadhan hari jum’at 16 juni nanti Ananda akan Belajar Wirausaha yakni pembuatan produk-produk bernilai ekonomis seperti amplop lebaran, bros, toples hias dan gantungan kunci untuk dijual pada acara pasar murah, selain itu juga ada Pasar Murah barang layak jual oleh Majelis Orang Tua Siswa (MOS) selanjutnya dijual kepada masyarakat sekitar sekolah dengan harga murah dan bazar sembako dan Kado Lebaran berupa bingkisan untuk anak-anak yatim dan kaum dhuafa.
Rangkaian acara pesantren ramadhan tersebut merupakan upaya yang dilakukan oleh sekolah dalam rangka penguatan pendidikan karakter siswa sabillillah dengan menerapkan 8 cinta, yaitu cinta Allah dan Rasul, cinta orang tua dan guru, cinta diri sendiri, cinta sesama, cinta alam sekitar, cinta IPTEK, cinta keunggulan dan cinta bangsa dan negara.

Read more

Peringati Hari Kartini Dengan Lomba Membatik

Malang Kota – Peringatan hari Kartini, 21 April di SMP Islam Sabilillah dikemas dengan berbagai kegiatan menarik. Salah satunya lomba membatik dan desain baju Kartini Modern. Lomba tersebut tampak diikuti siswa dengan antusias.

Misalnya, Aisyah Putri Kamila siswa kelas 7 SMP Islam Sabilillah yang tampak sangat terampil menguratkan pensil warnanya dalam membuat motif batik yang dibuatnya. “Saya membuat motif bunga, ingin menunjukkan Kartini perempuan yang lembut meskipun seorang pelopor,” ungkapnya.

Sementara itu, Amira Farras siswa kelas 8, lebih memilih motif naga emas yang dipadukan dengan bunga guna menyimbolkan perempuan anggun sekaligus kuat dalam goresan karya desain batiknya.

Kepsek SMP Islam Sabilillah Malang, Idi Rathomy Baisa, M. Pd, mengatakan ini merupakan, apresiasi kita kepada siswa bahwa mereka memiliki karakteristik, kemampuan, bakat, dan minat yang berbeda-beda. ”Untuk itu seluruh siswa kita libatkan agar tumbuh rasa percaya diri, dan meningkatkan kreativitas dan kemampuannya,” ujar Ida.

Sementara itu, ketua pelaksana Ibu Kusmiati mengatakan, tujuan dari kegiatan ini agar siswa memahami pentingnya perjuangan perempuan Indonesia untuk memiliki akses pendidikan guna mencapai emansipasi tanpa meninggalkan kodrat dirinya sebagai perempuan.

”Sekarang ini, bagaimana siswa yang ada tetap dapat mengambil hikmah dari perjuangan kartini. Sehingga jiwa emancipator tetap ada,” pungkasnya. (kis)

Read more

Tak Mau Turun Gunung sebelum Lukisan Selesai

RADARMALANG-Sebuah lukisan bergaya ekspresionisme terpampang pada media kanvas berukuran A3 (297 cm x 420 cm). Lukisan itu menampilkan aktivitas beberapa ekor kupu-kupu. Ada yang terbang bebas dan ada pula yang hinggap serta mengisap nektar bunga.

Penggambaran kupu-kupu serta bunga dalam lukisan itu dibuat colorful atau penuh warna. Pelukisnya berani mencampur warna merah, kuning, hijau, biru, dan ungu dalam satu bingkai lukisan.

Anda yang baru kali pertama melihatnya mungkin tak akan mengira bahwa lukisan tersebut adalah buah kreasi seorang anak berusia 14 tahun. Tapi kenyataannya, lukisan tersebut memang dibuat oleh anak-anak.

Lukisan bertema kupu-kupu itu menjadi salah satu karya yang dibuat Amira Farras Athayazzaka pada tahun ini. Siswi SMP Islam Sabilillah itu bahkan berhasil meraih prestasi di tingkat internasional berkat lukisan tersebut.

Mira–sapaan akrabnya– meraih medali emas pada ajang The Butterfly International Art Competition di Slovenia, Eropa, Maret 2017. ”Selama saya ikut lomba melukis, ini menjadi pencapaian terbaik,” kata Mira sambil menunjukkan medali emas yang dia kalungkan, Kamis pagi  lalu (27/4).

Meraih medali emas tentu menjadi hasil yang memuaskan baginya. Namun, lebih dari itu, Mira puas bisa membuat sebuah karya yang dinilai benar-benar sesuai ekspektasinya. ”Saya bisa menggambar kupu-kupu sesuai dengan apa yang saya inginkan,” ujar gadis kelahiran 21 Februari 2003 ini.

Sebenarnya, bukan kali ini saja Mira meraih hasil bagus dalam lomba-lomba di tingkat internasional. Tahun lalu, dia meraih Silver Award pada Van Gogh Art Competition di Polandia serta Bronze Award pada Nineteenth Annual Peace Pals International Art Exhibition and Awards yang digelar UNESCO di Wassaic, New York, Amerika Serikat. ”Selain itu, sebenarnya masih ada lagi. Tapi saya lupa,” ujar Mira dengan ekspresi polos.

Yang jelas, Mira bisa dibilang rajin mengikuti lomba. ”Bahkan, hampir tiap bulan saya selalu ikut lomba,” kata putri dari pasangan Herly Heryudi dan Ninuk Srie Wachyuni tersebut.

Mira mengungkapkan, kedua orang tuanya punya peran besar di balik keikutsertaannya dalam berbagai lomba. ”Ibu saya paling rajin cari informasi lomba. Biasanya lewat internet. Kalau nemu, baru ditawarkan kepada saya. Kalau ayah, biasanya yang sediakan peralatan lukisnya,” ujar dia.

Tak hanya rajin mengikuti lomba, Mira juga sering kali ikut ambil bagian dalam pameran seni lukis. Terakhir, dia diundang oleh Perwakilan Wanita Indonesia untuk pameran di Balai Pemuda Surabaya, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, 21 April lalu. ”Saya menjadi peserta pameran yang paling muda,” kata dia.

Dalam pameran tersebut, Mira menyertakan karya yang menampilkan sosok ibu menggendong anaknya. ”Saya ingin menunjukkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya,” ujar dia.

Mira mengaku, selalu ada kepuasan yang dirasakan setiap kali bisa menyampaikan pesan tertentu lewat karya lukisannya. Kepuasan yang sama dia rasakan sejak kali pertama mengenal dunia melukis waktu masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK).

Selama ini, Mira mengaku lebih suka pergi ke alam terbuka demi menghasilkan sebuah lukisan. Apakah itu ke pantai maupun ke gunung. ”Kalau mood-nya sedang bagus, saya tidak mau pulang sebelum lukisannya tuntas,” katanya.

Lebih lanjut, Mira menyatakan, demi meningkatkan skill melukisnya, dia berguru kepada tiga orang pelukis. Setiap Jumat, dia berguru pada M. Gofinda tentang gaya-gaya lukisan lokal. Lalu, tiap Sabtu, dia belajar pada pelukis lain bernama Sadikin untuk menghasilkan lukisan bertekstur. Sementara, pada hari Minggu, Mira belajar di Sanggar Daun Lukis. ”Jadi mulai Jumat hingga Minggu, saya fokus belajar melukis, selebihnya untuk sekolah,” ulas dia.

Selama ini, Mira juga cukup sering bereksperimen. Mulai dari membuat lukisan dengan cat akrilik pada media kanvas. Lalu, dia juga pernah mencampur cat minyak, air, dan cat tembok hingga menimbulkan efek yang berbeda dari lukisannya yang lain. (*/c2/muf) Rabu, 03 Mei 2017 07:28    

 

 

Read more