Blog

CERPEN: Hidup Itu . . . *)

Terkadang hidup itu tak adil. Disaat orang lain menginginkan sesuatu, maka orang lain yang akan mendapatkannya. Hidup itu memang keras dan butuh pengorbanan. Jika kau tak mau mengorbankan apapun, kau tak akan mendapat apapun juga. Terlintas kedua kalimat tersebut dalam benakku.

Siang ini sangat terik, panasnya sang mentari membuat keringat mulai mengalir dari pelipis. Aku duduk melamun di seberang sebuah sekolah negeri. Jam ini adalah waktu mereka pulang. Aku melihat banyak anak berlari keluar dari sekolah itu sambil tertawa, banyak dari mereka menggenggam beberapa buku paket di lengan mereka. Aku hanya memandangi mereka. Enaknya.. Batinku. Seperti yang kupikirkan tadi, Hidup itu tak adil. Karena hidup itu membagi manusia menjadi dua, mereka yang hidup penuh dengan kemudahan, dan mereka yang hidup dalam kesusahan. Aku mungkin sedang diuji oleh Allah, karena tergolong dalam mereka yang hidup dalam kesusahan.

Ya, Aku adalah seorang anak yang mungkin bisa kalian sebut miskin. Seorang anak malang yang tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah desa. Orang tuaku adalah seorang supir angkot dan pembuat sapu lidi. Pekerjaan mereka tidak menghasilkan uang begitu banyak, untuk makanan kami sekeluargapun kadang tak cukup. Karena itulah aku tidak bersekolah, untuk makanan saja susah, apalagi untuk biaya sekolah. Aku seharusnya sekarang duduk di kelas 4 SD. Namun seperti yang kukatakan tadi, aku tidak bersekolah.

Setiap hari aku membantu ibuku membuat sapu lidi dan menjualnya ke pasar. Lalu setelah itu, aku akan pergi ke rumah Pak Danang untuk membantu merawat ternaknya. Akupun ikut bekerja untuk menghasilkan uang. Hidup kami memang penuh kesusahan, namun dengan sabar kami jalani hidup ini, berharap hari esok yang lebih baik akan datang. Tentu aku tidak menyerah, setiap hari aku melakukan aktifitas rutinku dengan penuh semangat dan ceria. Aku memiliki banyak teman, mereka kebanyakan anak yang kurang beruntung seperti aku, namun ada beberapa dari mereka yang bersekolah, Dika dan Ito. Mereka adalah anak yang bisa memasuki tempat yang selama ini ingin kumasuki, sekolah. Mereka sering membawa buku pelajaran mereka di saat bermain denganku, karena aku meminta mereka. Dan akupun tetap belajar meskipun tidak memiliki seorang guru, kedua orang tuaku tak bisa mengajarku.

Setelah membawa ternak Pak Dangan merumput, aku melewati sebuah rumah yang sangat besar dan megah. Rumah itu adalah rumah seorang juragan kentang. Kentang hasil ladangnya sangat bagus dan besar juga banyak, dia sangat kaya. Sang juragan memiliki seorang anak yang setahun lebih tua dariku, ia disekolahkan di kota. Terkadang si anak terlihat di luar rumah sedang memegang sebuah benda yang iklan katakan sebagai Tablet. Tablet yang kutahu adalah obat, bukan benda berbentuk persegi panjang dan tipis seperti itu. Namun aku selalu senang melewati rumah itu, karena sang anak sering membuang buku pelajarannya ke tempat sampah. Aku selalu memungut buku yang ia buang untuk dibaca di rumah. Sejauh ini sudah ada hampir 20 buku yang ia buang. Ada buku berjudul ‘Matematika Itu Menyenangkan’, ‘Rahasia Alam’, ‘Sejarah Bumi’, dan lain-lain. Memang pada awalnya, buku-buku ini sama sekali tidak kupahami, namun berkat Dika dan Ito yang membawa buku pelajaran mereka dari kelas satu, aku akhirnya memahami isi buku itu dalam kurun waktu hampir 1 bulan. Aku menengok ke arah tempat sampang sang juragan. Wah! Ada Buku baru! 2 buku lagi! Terlihat dua buah buku. Sebuah novel dan sebuah atlas. Segera kuambil kedua buku itu dan bergegas pulang.

Sebelum bergegas pulang, ada satu tempat lagi yang ingin kukunjungi. Aku keluar dari gang dan berjalan menyusuri jalan raya. Jika aku belok kiri dan jalan terus, aku akan sampai di kota. Terlihat sebuah perempatan, aku segera menghentikan langkahku. Aah.. Salah Jalan… aku segera berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan. Sebenarnya, jika aku tetap jalan terus dan belok kanan, aku juga akan tetap sampai di tempat yang ingin kutuju, namun aku tak punya nyali sebesar yang kuharapkan. Jika aku meneruskan jalanku tadi, aku akan melewati sebuah sekolah swasta yang ternama. Melihat sekolah negeri saja sudah membuatku miris, apalagi melihat sekolah swasta. Melihat anak berseragam sekolah swasta itu saja sudah membuatku kecil hati. Lihat saja.. suatu saat nanti, aku akan bersekolah di sekolah yang keren seperti itu! Tekadku adalah semangatku. Aku tak akan menyerah.

Setelah berjalan beberapa lama, sebuah bangunan besar berdiri di depanku. Sebuah tulisan besar terpampang di atap gedung itu. ‘PERPUSTAKAAN’. Yap, surgaku. Aku ingin memasuki tempat ini. Di depan perpustakaan ini biasanya ada sebuah kerdus yang berisi buku-buku yang bagiku sangat bermanfaat, mungkin kerdus itu berisi buku-buku milik orang yang ingin menyumbang buku tersebut kepada perpustakaan. Meski terkadang dibiarkan saja oleh pihak perpustakaan. Aku berjalan perlahan dan melirik ke depan pintu masuk perpustakaan. Ada! Ada 1 kerdus! Dengan hati senang aku segera berlari menuju kerdus itu, namun saat aku hendak mengambilnya, pintu perpustakaan terbuka dan seorang bapak-bapak juga hendak mengambil kerdus itu. Bapak itu melihatku yang sudah memegang kerdus itu. Seketika, aku langsung panik, “Ah, Ehm.. Ini..”, ucapku gelagapan. Bapak itu memerhatikanku, lalu tersenyum, “Nak, kamu mau mengambil buku-buku ini?” tanyanya ramah. “I-Iya!” ucapku tegas. “Baiklah, ambil buku-buku ini dan kamu baca di rumah ya.” Pesannya. “I-Iya Pak! Terima Kasih!” ucapku sambil mengangkat kerdus itu dan berlari menuju ke rumah. Siapa ya Bapak tadi? Dia sangat baik..

Di rumah, aku membantu ibuku memasak di dapur. Kali ini kami memasak ikan teri, dimakan bersama nasi dan lalap. Ayah pulang dan mengatakan bahwa penghasilannya kali ini lumayan. Setelah makan malam dan membantu ibu membuat beberapa buah sapu lidi laagi, aku bergegas menuju kamarku dan kubuka kerdus tadi. Banyak buku-buku yang tidak pernah kulihat sebelumnya. RPUL.. UUD.. Kamus Bergambar.. Aku mengecek buku-buku itu satu persatu. Dan kuputuskan aku akan membaca atlas yang tadi kupungut dari rumah juragan kentang. Kubuka atlas itu, dan ekspresiku tak lain dari ekspresi ketakjuban. Di atlas itu menunjukkan betapa besarnya dunia ini. Atlas itu juga memasangkan foto-foto negeri lain dan kekayaan alamnya. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari buku itu, aku tak bisa berhenti membayangkan betapa indahnya dunia yang kejam ini. Kubalik halamannya satu persatu, Kutub Selatan dan auroranya yang indah, Gurun Sahara dan pasirnya yang gersang, Hutan Hujan dan Pepohonannya yang asri, aku sudah bisa membayangkan diriku berada di sana. Aku menitikkan air mata, berharap bisa mengunjungi tempat ini suatu saat nanti. Untuk itulah aku membutuhkan sesuatu yang bisa membantuku meraih impianku itu. Ilmu. Ilmu yang tinggi. Aku ingin menimba ilmu tentang dunia ini, menelitinya, dan mengetahui betapa besar dan indahnya dunia ini. setelah selesai membaca Atlas itu. Aku mengambil sebuah buku dari Kardus itu dan membacanya. Aku terus membaca di bawah sinar lampu minyak.

Besoknya, aku bangun agak lebih siang dari biasanya karena tadi malam terlalu asyik membaca. Aku mencoba mengingat kembali apa saja yang sudah kupelajari kemarin malam sambil membawa 10 sapu lidi untuk dijual di pasar. Di pasar, aku bertemu dengan seorang bapak-bapak yang berbicara dengan logat melayu. “Harga satu buah berapa?” tanyanya. “1.500  pak..” jawabku. “Saya beli 4 ya dek! Ini uangnya..” bapak itu menyodorkan uang Rp. 5000 kepadaku, spontan aku kaget, dalam hitunganku, 1.500 x 4 hasilnya adalah 6.000. “Maaf pak, uangnya kurang 1000..” ucapku. Bapak itu langsung marah, “Apalah kau itu! Saya sudah bayar cukup ke kamu!”. “Pak tapi harusnya bapak bayar 6000..” ucapku meyakinkannya, aku sudah belajar perkalian dari buku-buku milik Dika dan Ito. “Sudahlah! Kau pasti cari untung!” ucapnya sambil memukul lenganku. “Maaf bapak, tapi apa yang dikatakan anak ini benar, anda kurang 1000 membayarnya..” ucap seseorang. Saat kami menoleh, terlihat bapak yang kutemui di depan perpustakaan itu sedang berdiri di belakangku. Bapak berlogat tadi langsung diam, melempar uang Rp 1000 ke arahku dan langsung pergi. Bapak yang baik itu membantuku berdiri. “Kamu Tidak apa-apa?” tanyanya dengan bahasa yang sangat sopan, karena aku hidup di lingkungan yang berbicara dengan bahasa kasar, agak malu jadinya menghadapi orang yang berbicara dengan bahasa yang halus. “I-iya..” jawabku. Dia tersenyum lalu menggandeng tanganku, “Ikut bapak sebentar..”. lalu kami mulai berjalan.

Sampailah kami di depan perpustakaan. Dia duduk di kursi yang ada di depan perpustakaan itu. “Ada beberapa pertanyaan yang ingin bapak tanyakan kepadamu..” ucapnya. “A-apa itu?” tanyaku sedikit takut. “Pertama, 2 x 5 = ?”. aku pertama kaget mendengar pertanyaan ini, tapi langsung saja kujawab, “10”. Setelah menjawab sekitar 5 pertanyaan, “Kamu menjawab semuanya dengan benar..” pujinya. Aku tersenyum senang. “Namun masih ada beberapa pertanyaan lagi. Setelah ditanya tersu menerus, akhirnya dia berhenti. “Semua pertanyaan MAT, IPA, IPS, terjawab benar, namun masih belum menguasai bahasa Inggris ya?” pujian dan kritikan sekaligus diberikan kepadku, aku tidak tahu harus sedih atau senang. “I-iya pak, saya bingung membaca kamus bahasa Inggris..” ucapku. “Umur berapa kamu?” tanyanya, kujawab “10..”. “10 ya.. berarti seharusnya kamu kelas 4 SD ya? Sekolah di mana?” tanyanya. Aku terdiam, “Oh maaf, saya tahu jawabnnya..” dia langsung memotong sebelum aku sempat menjawab. “Namun nak, kamu tahu… dari 20 pertanyaan yang tadi saya berikan kepadamu, ada 1 soal MAT, 3 Soal IPA dan 2 Soal IPS yang materi bab itu dipelajari di kelas 5, dan kamu menjawabnya dengan benar.. belajar di mana kamu?” tanyanya. “Aku.. belajar dari buku yang dibuang oleh juragan kentang di dekat tempatku merumputkan ternak..” jawabku. “Nak.. Kamu memiliki Potensi besar, kamu memiliki otak yang pintar..” ucapnya. Aku hanya terdiam. “Sayang jika tidak dikembangkan, apakah kamu mau sekolah?” tanyanya. Aku kaget mendengar pertanyaan itu, “Saya mau tapi..”. “Apakah masalah biaya? Tidak perlu takut! Bapak ini Pak Agus Putra Cahyano , kepala sekolah SD Delta, bapak akan memberimu beasiswa.. bapak akan bicara kepada orang tuamu..”. aku tak bisa memercayai apa yang barusan kudengar, SD Delta? Sekolah swasta yang terkenal itu?. “S-Saya akan sangat senang karenanya!” ucapku senang. “Oh satu lagi, ini..” Pak Agus memberikan sebuah kartu kepadaku. “Itu adalah kartu anggota perpustakaan, kamu bisa bebas masuk dan meminjam buku dari perpustkaan ini..”. Subhanallah, Orang ini terlalu baik. “T-terima Kasih banyak! Andai ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk membalaskna kebaikan bapak..” ucapku. Beliau tersenyum, “Cukup giat belajar dan jadilah orang sukses…”.

Hidup itu terkadang tak adil. Tuhan yang Maha Kuasa bisa dengan mudah membalikkan suatu keadaan seperti membalikan telapak tangan. Dari kaya menjadi miskin, dan sebaliknya. Hidup itu memang keras, butuh kerja keras untuk menggapai impian.

Ega Wijianto. Dari seorang anak yang kurang mampu, 15 tahun kemudian menjadi seorang ilmuwan ternama. Orang yang berhasil menemukan teorema baru dalam dunia Fisika adalaha orang yang bahkan tidak sekolah dasar. Kehidupan orang tuanya membuat sapu lidi dan menjadi supir, kini tak lagi. Ega berusaha membuat orang tuanya agar tidak merasakan waktu pahit itu lagi. Ega kini berkeliling dunia untuk berbagai acara dan penelitian, impiannya untuk menimba ilmu kini tercapai. Impiannya untuk meneliti dunia ini, kini sudah berada di genggaman tangannya. Impiannya untuk hari esok yang lebih baik, kini sudah tercapai.

Hidup itu Terkadang sangat ajaib. Hal kecil seperti senang membaca buku dapat mengubah kehidupan seseorang. Hidup itu memang penuh dengan makna. Kita perlu merasakan sakit sebelum merasakan senang. Hidup itu Terkadang Kejam dan Keras. Kan, ‘Terkadang’.. Jika kita mau berusaha, apapun bisa kita lakukan. Giatlah belajar agar impianmu mudah digapai. Senanglah membaca karena buku itu, ‘Jendela Dunia’.

 

*) Ananda Rania Izzul Jinan Kelas IX D

No Comments Yet


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *