Blog

Re-charger Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) melalui Permainan Tradisional

Malang- Setelah menghabiskan liburan semester ganjil, sudah tiba saatnya bagi  siswa untuk kembali masuk sekolah. Salah satu hal yang penting untuk dilakukan oleh sekolah adalah penguatan pendidikan karakter siswa.  Untuk itulah,  SMP Islam Sabilillah Malang menyelenggarakan acara MOKS (Masa Orientasi Karakter Siswa).  Pelaksanaan MOKS yang telah dilaksanakan di SMP Islam Sabilillah Malang ini diwarnai dengan kegiatan yang menyenangkan bagi siswa. Kegiatan MOKS ini dilaksanakan  selama tiga hari, yaitu mulai hari Selasa, 3 Januari dan akan berakhir pada hari Kamis , 5 Januari.

Berbagai kegiatan dilaksanakan dalam MOKS,  antara lain adalah Ice breaking dan Brain Wash tentang Penguatan Pendidikan Karakter, refleksi  harapan karakter baik yang telah dilakukan siswa sebagai perwujudan penguatan skill keterampilan berpikir kritis dan kolaboratif, siswa diajak untuk berdiskusi tentang harapan karakter baik di sekolah yang diwujudkan dalam bentuk slogan. Untuk melatih berpikir kritis, mereka diajak berdiskusi mencari solusi masalah menjaga antara karakter baik dengan kenyataan sehari-hari.

Motivasi karakter tentang pergaulan Islami  disampaikan oleh Habib Taufiq Baragbah. Beliau dengan luwesnya mengajak siswa Sabilillah untuk memiliki pribadi yang selalu mencontoh dan meneladani Rasulullah. Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa karakter itu identik dengan kepribadian/akhlak dan di dalam diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik untuk kepribadian/karakter.

Penguatan pendidikan karakter juga disemaikan dalam bentuk permainan. Tampak kegembiraan dari wajah-wajah siswa saat memainkan permainan tradisional. Siswa langsung mencoba berbagai permainan tradisional seperti engklek, main kelereng, lompat tali, ular naga, gobak sodor, dan permainan tradisional lainnya. Menurut Dwi Efendi, S.Pd selaku Waka Kesiswaan dan Humas mengatakan bahwa “Dalam kegiatan ini dikenalkan berbagai permainan tradisional untuk menguatkan karakter siswa terutama jiwa sosial dan cinta budaya bangsa. Di samping itu bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang berimbang kepada siswa agar tidak hanya tahu dan  memainkan game online yang banyak dampak negatifnya . Melalui permainan tradisional,  banyak ditanamkan  karakter positif, seperti  kejujuran, kedisiplinan, kerja sama, penerimaan, semangat kerja keras, saling menghargai, santun kepada orang lain, dan lain-lainnya.”

Kegiatan yang tak kalah menarik adalah penentuan kelompok  pelopor kebaikan dalam 5 laskar, yaitu laskar ibadah,  laskar bersih dan rapi, laskar  santun, laskar adab makan Islami, dan laskar ketertiban. Dalam laskar tersebut, siswa mendiskusikan hal-hal yang akan dilakukannya  dalam menegakkan kebaikan. Daya cipta, rasa, dan karsa siswa diasah dalam kegiatan pembuatan film “karakter.” Masih dalam kelompok kakak-adik asuh mereka membuat skenario film karakter dilanjutkan dengan pembuatan dan editing film. Pembuatan film karakter ini, di samping dapat menumbuhkan karakter untuk selalu kritis,  kreatif, inovatif, kolaboratif, dan komunikatif dlm kelompoknya. Kegiatan ini juga membekali siswa agar saling menginspirasi temannya  dalam  berbuat kebaikan.

“Dalam kegiatan MOKS di SMP Islam Sabilillah ini memang dikemas dalam bentuk yang menyenangkan, memicu siswa untuk mengembangkan  super skill generasi abad 21, yaitu 4’C-nya (critical thinking, creativity, collaboration, communication) yang memang menjadi fokus revitalisasi pendidikan yang diselenggarakan di SMP Islam Sabilillah Malang khususnya dan SISMA (Sekolah Islam Sabilillah Malang) pada umumnya, ” ujar Kepala Sekolah SMP Islam Sabilillah Malang, Bapak Idi Rathomy Baisa, S.Pd, M.Pd.

Lebih lanjut Beliau mengatakan bahwa  revitalisasi pendidikan karakter di SMP Islam Sabilillah telah dilakukan pada semester ganjil yang lalu dan menjadi tantangan sekaligus rasa syukur karena SMP Islam Sabilillah dijadikan sebagai sekolah rujukan dalam pendidikan karakter secara nasional.  Untuk itu, MOKS yang dilaksanakan selama tiga hari ini akan  terus ditindaklanjuti,  dimonitoring dan dievaluasi  pelaksanaannya secara rutin setiap hari oleh wali kelas dan wali asuh. Sehingga karakter yang terbentuk tetap terjaga untuk mewujudkan ‘Sekolah Berkarakter’,” jelas Idi Rathomy Baisa, S.Pd, M.Pd. (kusmiati)

No Comments Yet


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CLOSE
CLOSE